Jarak dan Doa
Gak asing lagi buat kita untuk berpisah, sementara karna jarak, lagi. Hari ini, 15 September 2019, aku memutuskan untuk pergi ke Depok, ketemu dia yang biasa bergumam setiap hari saat masa kuliah.
"Kalo bisa ketemu, ketemu aja, percaya deh, sebelum susah buat ketemu"
kata itu terngiang dan kembali membuktikan padaku hal yang sebenarnya terjadi saat ini, penyesalan, dan ingin memutarkan waktu beberapa bulan yang lalu memang terbesit di pikiranku saat ini.
"iya yah, kenapa dulu sering banget nolak ajakan dia buat ketemu hanya karna terlalu nyaman di kosan" but time flies, people change. dia dengan urusan koasnya yang super sibuk bahkan sabtu minggu pun, dan aku dengan kegiatan baruku, mencari pengalaman untuk hidup.
"aku udah kelar, makan yuk" kalimat yang terlontar darinya setiap hari saat aku yang masih menunggu akhir masa kuliahku, dia yang sudah mulai melangkah lebih dulu. shabu hachi, yoshinoya, hoka hoka bento, koi, sate padang, tampomas, pecel lele, dia dengan nasi goreng padangnya dan aku dengan surabinya, semua suasana aku senang, yang terpenting adalah bersama dia. tak terasa, ternyata hampir 3 tahun aku mengenalnya, rasanya seperti masih kurang ya, padahal dulu hampir setiap hari ketemu dia, hampir setiap hari menghabiskan waktu bareng dia. dia dengan jadwal koasnya yang padat, membuatku sangat amat bersyukur bertemu dia di akhir pekan, walaupun hanya satu hari bertemu, rasanya kok senang sekali ya? padahal, aku hanya ingin makan bareng dia, makan di tempat favorit kita akhir-akhir ini kalau punya uang, ojju, makanan hits yang udah lama tapi baru sempet nyobain akhir-akhir ini.
"enak ya, pantesan rame, kapan-kapan kesini lagi deh" gumamku, saat pertama kali mampir di restoran korea itu.
"halo... kamu dimana?" ungkapnya di telfon sambil mencolek pundakku.
"udah glowing sekarang" ungkapnya pertama kali, padahal sedang breakout-breakoutnya, memang ahlinya membuatku melambung lalu dijatuhkan, huft..
aku dan dia menuju tempat dengan berjalan kaki, yang sudah direncakan bahkan satu minggu yang lalu, kami bertukar cerita, dia dengan segala kesibukannya dan masalahnya di kampus, aku dengan kosan baru di ibu kota. seperti biasa, aku yang selalu lengah berjalan di pinggir dan tidak mempedulikan mobil atau motor yang hampir melukai, dan dia yang selalu berkata "awas coba jalan tuh, biar aku yang di pinggir" tapi tanpa terasa lagi tiba-tiba aku dipinggir jalan lagi. sepertinya dia berkata yang sama hampir 3 kali sampai tempat tujuan, hehehe. jadi, kangen.
tempat pertama yang kami kunjungi adalah toko sepatu, seperti biasanya dia yang bingung dan aku yang mematahkan kebingungan dia untuk membelinya wkwk, "yaudah sih daripada uangnya kepake untuk yang engga-engga" :) padahal aku tau dia adalah orang yang teguh pendirian, jadi kami hanya lihat-lihat saja, gapapa...biar waktu kebuang banyak bareng dia. chatime adalah singgahan kedua kami sebelum masuk ojju, tapi apa boleh buat chatime disita karena peraturan resto yang tidak memperbolehkan kami membawa makanan/minuman dari luar. padahal pengen banget:( jadi gaenak deh. kurang lebih selama 4 jam berada di mall, kami memutuskan untuk pulang karena besok adalah hari pertamaku bekerja.
"maaf ya aku cuma bisa anter kamu sampe sini" ungkapnya di tiang setengah badan sambil menunggu kereta menuju jakarta kota itu. kalau dulu, peron itu adalah tempat kita berdua menunggu kereta menuju bogor bersama, di malam hari, menikmati udara bogor dengan motornya. sekarang, peron itu adalah tempat dimana aku melambaikan tangan melalui kaca pintu kereta. sedihku berlipat, tidak bisa melihatnya jalan menuju bogor, disaat setiap hari aku melihat dia memutarkan motornya di depan kosanku untuk sama-sama kembali ke tempat masing-masing. aku bersyukur karena semasa kuliahku dia yang memberi support, kenangan, keyakinan bahwa aku bisa mencapai mimpiku, bahwa aku tidak serendah yang aku pikirkan (maklum, anaknya suka merendahkan diri), bahwa aku setara dengan mereka yang bekerja di tempat impianku, bahwa aku mampu mencapai apa yang aku inginkan. terima kasih, semoga masalah kita hanyalah jarak, masih ada doa yang terlontar untuk mendukung setiap proses yang kamu jalani, bahwa kamu adalah penguatku setelah orang tua dan keluarga. Adalah mustahil bahwa kamu tidak bahagia, sebab orang-orang bahagia mengenalmu, aku termasuk didalamnya :)
"Kalo bisa ketemu, ketemu aja, percaya deh, sebelum susah buat ketemu"
kata itu terngiang dan kembali membuktikan padaku hal yang sebenarnya terjadi saat ini, penyesalan, dan ingin memutarkan waktu beberapa bulan yang lalu memang terbesit di pikiranku saat ini.
"iya yah, kenapa dulu sering banget nolak ajakan dia buat ketemu hanya karna terlalu nyaman di kosan" but time flies, people change. dia dengan urusan koasnya yang super sibuk bahkan sabtu minggu pun, dan aku dengan kegiatan baruku, mencari pengalaman untuk hidup.
"aku udah kelar, makan yuk" kalimat yang terlontar darinya setiap hari saat aku yang masih menunggu akhir masa kuliahku, dia yang sudah mulai melangkah lebih dulu. shabu hachi, yoshinoya, hoka hoka bento, koi, sate padang, tampomas, pecel lele, dia dengan nasi goreng padangnya dan aku dengan surabinya, semua suasana aku senang, yang terpenting adalah bersama dia. tak terasa, ternyata hampir 3 tahun aku mengenalnya, rasanya seperti masih kurang ya, padahal dulu hampir setiap hari ketemu dia, hampir setiap hari menghabiskan waktu bareng dia. dia dengan jadwal koasnya yang padat, membuatku sangat amat bersyukur bertemu dia di akhir pekan, walaupun hanya satu hari bertemu, rasanya kok senang sekali ya? padahal, aku hanya ingin makan bareng dia, makan di tempat favorit kita akhir-akhir ini kalau punya uang, ojju, makanan hits yang udah lama tapi baru sempet nyobain akhir-akhir ini.
"enak ya, pantesan rame, kapan-kapan kesini lagi deh" gumamku, saat pertama kali mampir di restoran korea itu.
"halo... kamu dimana?" ungkapnya di telfon sambil mencolek pundakku.
"udah glowing sekarang" ungkapnya pertama kali, padahal sedang breakout-breakoutnya, memang ahlinya membuatku melambung lalu dijatuhkan, huft..
aku dan dia menuju tempat dengan berjalan kaki, yang sudah direncakan bahkan satu minggu yang lalu, kami bertukar cerita, dia dengan segala kesibukannya dan masalahnya di kampus, aku dengan kosan baru di ibu kota. seperti biasa, aku yang selalu lengah berjalan di pinggir dan tidak mempedulikan mobil atau motor yang hampir melukai, dan dia yang selalu berkata "awas coba jalan tuh, biar aku yang di pinggir" tapi tanpa terasa lagi tiba-tiba aku dipinggir jalan lagi. sepertinya dia berkata yang sama hampir 3 kali sampai tempat tujuan, hehehe. jadi, kangen.
tempat pertama yang kami kunjungi adalah toko sepatu, seperti biasanya dia yang bingung dan aku yang mematahkan kebingungan dia untuk membelinya wkwk, "yaudah sih daripada uangnya kepake untuk yang engga-engga" :) padahal aku tau dia adalah orang yang teguh pendirian, jadi kami hanya lihat-lihat saja, gapapa...biar waktu kebuang banyak bareng dia. chatime adalah singgahan kedua kami sebelum masuk ojju, tapi apa boleh buat chatime disita karena peraturan resto yang tidak memperbolehkan kami membawa makanan/minuman dari luar. padahal pengen banget:( jadi gaenak deh. kurang lebih selama 4 jam berada di mall, kami memutuskan untuk pulang karena besok adalah hari pertamaku bekerja.
"maaf ya aku cuma bisa anter kamu sampe sini" ungkapnya di tiang setengah badan sambil menunggu kereta menuju jakarta kota itu. kalau dulu, peron itu adalah tempat kita berdua menunggu kereta menuju bogor bersama, di malam hari, menikmati udara bogor dengan motornya. sekarang, peron itu adalah tempat dimana aku melambaikan tangan melalui kaca pintu kereta. sedihku berlipat, tidak bisa melihatnya jalan menuju bogor, disaat setiap hari aku melihat dia memutarkan motornya di depan kosanku untuk sama-sama kembali ke tempat masing-masing. aku bersyukur karena semasa kuliahku dia yang memberi support, kenangan, keyakinan bahwa aku bisa mencapai mimpiku, bahwa aku tidak serendah yang aku pikirkan (maklum, anaknya suka merendahkan diri), bahwa aku setara dengan mereka yang bekerja di tempat impianku, bahwa aku mampu mencapai apa yang aku inginkan. terima kasih, semoga masalah kita hanyalah jarak, masih ada doa yang terlontar untuk mendukung setiap proses yang kamu jalani, bahwa kamu adalah penguatku setelah orang tua dan keluarga. Adalah mustahil bahwa kamu tidak bahagia, sebab orang-orang bahagia mengenalmu, aku termasuk didalamnya :)

Comments
Post a Comment